Kebaikan mendasar adalah kemurnian dan kebaikan yang sudah hadir di dasar pengalaman kita, sebelum kita berusaha menjadi orang baik, dan ia dapat dikenali secara langsung. Ia tidak perlu dibangun dari nol. Yang perlu dilatih adalah cara mengenalinya, lalu membiarkannya meresap ke tubuh, relasi, dan tindakan sehari-hari.
Coba ingat satu momen sederhana. Seorang anak kecil terjatuh di depan kita, dan sebelum sempat berpikir, tangan sudah terulur. Atau seseorang yang kita sayangi bercerita sambil menahan tangis, dan dada kita melunak dengan sendirinya. Pada momen seperti itu tidak ada rapat batin dulu tentang apakah kita harus peduli. Kepedulian muncul begitu saja, hangat dan pas.
Sekarang bandingkan dengan keadaan ketika kita merasa harus menjadi orang baik. Bahu sedikit naik, napas agak tertahan, ada rasa takut salah atau takut tidak diterima. Kita bilang “ya” supaya dianggap baik, lalu diam-diam kesal. Kebaikannya ada, tetapi tubuhnya tegang. Kok bisa rasanya berbeda sekali?
Kebaikan mendasar sebelum usaha menjadi baik
Perbedaan itu memperlihatkan sesuatu yang penting. Kualitas kebaikan tidak hanya ditentukan oleh bentuk tindakannya. Sumber geraknya ikut menentukan. Ketika kebaikan lahir dari ketakutan atau rasa bersalah, ia mudah kaku dan melelahkan. Ketika ia mengalir dari dasar yang lebih dalam, ia cenderung lebih ringan, lebih cerdas membaca keadaan, dan tidak perlu dipertontonkan.
Dasar yang lebih dalam inilah yang saya sebut kebaikan mendasar, atau dalam bahasa Inggris basic goodness. Doa berlindung di bagian pembuka Sutra untuk Memasuki Jalan Keajaiban menyentuh hal yang sama: “Aku berlindung kepada Realitas Sejati, kepada Keindahan yang menjadi hakikat semua makhluk.” Di tempat lain saya sering memakai gambaran permata tak ternilai: kesucian yang melandasi segala fenomena dan bersinar melaluinya, permata yang dikenali oleh para suci. Bahasa ketuhanan dan bahasa kesadaran bisa hadir berdampingan di sini. Silakan pakai yang paling menyentuh hati. Istilah ini juga akrab bagi saya lewat latihan Shambhala.
Permata yang tertutup lumpur
Bayangkan sebuah zamrud yang lama terbenam di lumpur. Dari luar ia tampak seperti batu biasa, kusam dan kotor. Membersihkannya tidak membuat zamrud itu menjadi zamrud, karena ia memang sudah zamrud sejak awal. Pembersihan hanya membuat kilaunya terlihat.
Begitu juga dengan kita. Pola marah, cemas, iri, atau kebiasaan menyenangkan semua orang adalah lumpurnya. Itu bagian dari kondisi manusia, terbentuk dari sejarah, luka, dan lingkungan. Kebaikan mendasar adalah zamrudnya. Pikiran, perasaan, dan sensasi terus bergerak dan berubah, ibarat riak di permukaan air, sementara yang menyadari semua itu tetap jernih.
Di sini dua tingkat kebenaran perlu dipegang bersamaan. Pada tingkat terdalam, hati kita memang murni. Pada tingkat relatif, pemurnian, latihan, dan perawatan luka tetap diperlukan. Mengenali kebaikan mendasar tidak membuat semua tindakan otomatis baik, dan tidak menjadi alasan untuk melompati rasa sakit. Justru karena dasarnya baik, kita bisa merasa cukup aman untuk menatap lumpur itu dengan jujur, tanpa membenci diri sendiri.
Pengenalan ini juga perlu turun ke tubuh. Sering kali ia pertama kali terasa sebagai rasa aman yang sederhana: tubuh yang tidak lagi harus bersiaga penuh, napas yang sedikit lebih panjang, perut yang melunak. Dari rasa aman itu, kasih menjadi lebih mudah, dan kebijaksanaan lebih jernih melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan. Wujudnya pun bisa beragam. Kadang pelukan. Kadang kalimat “tidak” yang jernih, batas yang tegas, atau keberanian menolak tekanan yang tidak tepat. Orang yang berani berkata tidak dengan hati terbuka sering justru menjaga hubungannya tetap sehat.
Meditasi untuk mengenali kebaikan mendasar
Meditasi memberi ruang supaya kebaikan mendasar dapat dikenali, dipercaya, dan dihidupi. Latihannya bisa sangat sederhana. Duduk atau berbaring dengan nyaman. Rasakan bagian tubuh yang ditopang lantai atau kursi. Biarkan napas berjalan sendiri. Apa pun yang muncul, entah pikiran, rasa tidak nyaman, atau ingatan, boleh muncul, dan cukup disadari.
Lalu, kalau terasa cocok, perhatikan yang menyadari semua itu. Kalau diulik pelan-pelan, pengalaman ini ternyata tidak sesolid yang kita kira. Kalau diperhatikan pelan-pelan, kesadaran ini ternyata tidak dingin. Ada kehangatan, keterbukaan, dan kelapangan yang tidak dibuat-buat. Dalam bahasa nondualitas, kebaikan itu tidak berada di luar kesadaran yang mengenalinya. Kesadaran, kasih, dan kebijaksanaan bergerak sebagai satu gerak yang hidup.
Pendek-pendek tetapi sering. Beberapa detik mengenali, berulang kali dalam sehari, sering lebih bermanfaat daripada satu sesi panjang yang dipaksakan.
Jika ingin mulai berlatih, ikuti panduan belajar meditasi untuk pemula. Untuk melihat hubungan pengenalan, cinta kasih, dan kehidupan sehari-hari, jelajahi Marga Wismaya.
Kalau para sahabat ingin belajar mengenali kebaikan mendasar dengan didampingi, silakan bergabung dalam sesi personal atau kelas meditasi kelompok kecil di Inner Peace Indonesia. Kita mulai dari keadaan para sahabat yang sekarang, dengan tempo yang sesuai kapasitas tubuh dan hati masing-masing. Informasinya ada di halaman sesi personal.
Semoga kebaikan yang sudah ada di dalam diri kita semakin terkenali, dan mengalir kepada orang-orang di sekitar kita.