Marga Wismaya adalah jalan meditasi yang saya ajarkan di Inner Peace Indonesia. Marga berarti jalan, wismaya berarti keajaiban, jadi Marga Wismaya adalah Jalan Keajaiban: sebuah cara berlatih yang berangkat dari pengalaman sehari-hari dan perlahan membuka pengenalan akan kesadaran murni yang sudah selalu hadir. Jalannya bertahap, sementara pintunya bisa dibuka sekarang juga.
Namanya diambil dari bahasa Jawa, dan jalannya akrab dengan laku batin di tengah hidup sehari-hari, sambil tetap bersahabat dengan kebijaksanaan tradisi kontemplatif yang saya pelajari dan jalani. Keajaiban yang dimaksud pun dekat sekali: kenyataan bahwa kita sadar, saat ini juga.
Coba perhatikan napas yang sedang berlangsung. Tidak perlu diatur. Tarik napas, ada udara yang masuk. Buang napas, ada udara yang keluar. Sekarang perhatikan juga pikiran yang mungkin muncul sambil membaca ini: komentar kecil, ingatan, rencana nanti sore. Semuanya bisa dilihat. Pikiran datang, lewat, lalu pergi. Ada yang menyadari semua itu, dan yang menyadari itu tidak ikut pergi bersama pikiran. Pengamatan sederhana inilah titik awal Marga Wismaya.
Tiga Jalan dalam Marga Wismaya
Judul buku saya, Sutra untuk Memasuki Jalan Keajaiban, memakai arti Indonesia dari nama ini. Di dalamnya saya menguraikan ajarannya sebagai Tiga Jalan. Ketiganya saling menopang, dan dalam praktik yang matang ketiganya bisa hadir dalam sekali duduk, bahkan dalam satu napas.
Jalan pertama adalah Mengambil Jarak. Intinya menonton. Tubuh, pikiran, dan perasaan ditonton apa adanya, tidak dilekati dan tidak ditolak. Seperti menonton arus sungai tanpa terseret arusnya, atau menonton televisi sambil pelan-pelan mengenali layarnya. Lupa dan hanyut juga tidak masalah, karena lupa dan hanyut pun bisa ditonton. Kuncinya pendek-pendek tetapi sering.
Jalan kedua adalah Jalan Cinta, disebut juga Jalan Transformasi. Di sini ruang pandangnya diperluas. Setiap tarikan napas, setiap kedipan mata, setiap tindak tanduk siapa pun, termasuk orang yang tidak kita sukai, adalah gerak ingin bahagia dan ingin bebas dari derita. Lihat sepiring nasi di depan kita. Di dalamnya ada padi, tanah, petani, awan, dan hujan. Ada seluruh alam di dalam satu suapan. Ketika keterhubungan ini terlihat jelas, pengertian tumbuh, dan cinta kasih muncul dengan sendirinya. Luka dan emosi yang sulit pun bisa menjadi bahan transformasi, seperti pohon yang mengubah kotoran menjadi pupuk.
Jalan ketiga adalah Terang Yang Menyinari Dirinya Sendiri. Di sini kita mengulik hakikat pengalaman itu sendiri. Pikiran, perasaan, suara, dan sensasi dikenali apa adanya, dan ternyata tidak sesolid yang kita kira, tidak bisa digenggam. Ketika ini makin jelas, hidup terasa lebih ringan dan lapang, dan meditasi menjadi beristirahat secara alamiah, tanpa menggenggam dan tanpa menolak.
Jalan langsung dan jalan eksploratif
Setiap orang datang dengan tubuh, sejarah, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu Marga Wismaya tidak memaksa semua orang melewati pintu yang sama. Ada yang cocok langsung dikenalkan pada hakikat kesadaran lalu belajar beristirahat di dalamnya. Ada yang perlu masuk lewat jalan eksploratif lebih dulu: napas, perhatian, merasakan tubuh, membangun rasa aman, inquiry, atau doa. Keduanya bertemu pada pengenalan yang sama.
Ini penting, karena pengenalan kesadaran murni tidak otomatis membuat sistem saraf selesai menata ulang pola lamanya. Kita bisa mengenali keluasan batin dengan jernih, lalu tetap merasakan dada menyempit saat percakapan yang sulit. Dua-duanya benar di tingkatnya masing-masing. Capek, relasi, pekerjaan, dan luka nyata dalam fungsinya, sementara hakikat pengalaman tetap terbuka dan jernih. Marga Wismaya memegang keduanya sekaligus, supaya kedalaman tidak menjadi jalan pintas untuk melompati kehidupan.
Pemahaman terhadap jalan ini juga bertumbuh. Awalnya ia dipahami sebagai konsep. Lalu meresap ke tubuh dan perasaan. Lalu menjadi realisasi langsung, dan realisasi itu pelan-pelan meresapi seluruh hidup. Di tahap mana pun, ajakannya sama: lanjutkan berlatih.
Marga Wismaya dalam keseharian
Sebagian besar latihan justru terjadi di luar bantal meditasi. Ketika minum, hadirlah sepenuhnya pada minum. Ketika makan, pada makan. Ketika berjalan, biarkan kaki mencium bumi. Kalau capek, sadari capek. Kalau mengantuk, sadari mengantuk. Kalau banyak pikiran, ya sadari banyak pikiran. Tidak ada keadaan yang membuat kita tidak bisa berlatih.
Emosi adalah medan latihan yang jujur. Di jalan pertama, emosi ditonton tanpa terlibat. Di jalan kedua, emosi ditransformasi menjadi cinta. Di jalan ketiga, emosi disinari apa adanya dan dikenali esensinya sebagai terang yang transparan. Di ketiganya, emosi tidak digenggam dan tidak dilawan. Patokan perjalanannya pun menjadi jelas. Emosi tetap datang, dan kemunculannya semakin dikenali.
Untuk langkah latihan yang sederhana, mulai dari panduan belajar meditasi. Landasan yang dikenali melalui jalan ini juga dapat dijelajahi dalam kebaikan mendasar. Kenali pula latar dan cara Andreas mendampingi.
Kalau ada bagian dari tulisan ini yang terasa akrab, atau sekadar membuat penasaran, para sahabat boleh menjelajahinya bersama saya. Sesi biasanya dimulai dengan saling mengenal dan memahami apa yang sungguh dibutuhkan, lalu latihannya disesuaikan dengan orang yang hadir, baik yang baru mulai belajar meditasi maupun yang sudah lama berlatih. Informasi sesi personal dan kelas kelompok kecil ada di halaman sesi personal.
Semoga perjalanan ini membawa manfaat bagi para sahabat dan bagi semua yang kita jumpai.